
Laporan warga bahwa air Sungai Ngrowo dan Kali Song di Kabupaten Tulungagung mengeluarkan bau tidak sedap dan berwarna keputihan ditindaklanjuti oleh Aliansi Lereng Wilis (ALWI), Ecoton, PPLH Mangkubumi dan mahasiswa Tulungagung melakukan pengujian kualitas air. Pengujian kualitas air sungai melibatkan 50 orang dari akademisi, praktisi, dan pegiat lingkungan di Kabupaten Tulungagung, pengujian kualitas air di Sungai Ngrowo dilakukan di DAM Majan, dan Taman Gendang. Sementara dilanjutkan di Kali Song di daerah Kauman pada dua titik, di area pemukiman dan di outlet pembuangan pabrik gula.
Kami dari HMPS Tadris Biologi berkesempatan mengikuti program uji kualitas air ini sebagai wujud tadris biologi juga peduli lingkungan, sepengetahuan kami kondisi fisik Sungai Ngrowo cukup buruk. Di sana terdapat banyak sampah plastik akibat buangan dari warung-warung jajanan di sekitar Pinka Tulungagung (lokasi wisata kuliner). Banyak juga limbah dari warung tersebut yang langsung dialirkan ke sungai, sehingga warna air pun keruh dan banyak plastik yang mengapung.
Langkah awal yang kami lakukan setelah membagi kelompok adalah mengambil sampel air dari sungai kemudian di cek suhu, ph, DO, kandungan nitrit dan nitrat serta kandungan fosfatnya. Dari Sungai Ngrowo didapatkan hasil kondisi sungai kelas 2 yang cukup buruk, karena kandungan DO (Disolvet Oksigen) yang sangat rendah dan kandungan fosfat yang cukup tinggi. kami mendapatkan lokasi yang sangat dekat dengan outlet pabrik gula, sehingga didapati hasil sungai di sana dalam kondisi buruk sekali karena adanya buangan limbah secara langsung dari pabrik ke sungai, salah satunya dapat dilihat dari suhu air yang memanas sampai 40 derajat Celcius,” ungkap Amel, 24 Juni 2024. Disini kami menyimpulkan secara umum, kondisi lingkungan di Tulungagung menghadapi berbagai macam permasalahan, seperti buruknya kualitas air diakibatkan karena pencemaran air sungai di Tulungagung cukup memprihatinkan.

Indeks Kualitas Air (IKA) menunjukkan bahwa sebagian besar sungai tercemar akibat limbah rumah tangga dan peternakan. Hal ini mencemari air dan membahayakan biota air. Terdapat juga permasalahan mikroplastik.Penelitian menemukan mikroplastik di 11 sungai di Tulungagung dengan rata-rata 90 partikel per 100 liter. Mikroplastik ini berasal dari sampah plastik yang mencemari lingkungan dan dapat membahayakan kesehatan manusia dan biota air. Selain itu kualitas udara yang disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor dan debu jalanan juga kurang baik. Hal ini dapat menyebabkan penyakit pernapasan dan masalah kesehatan lainnya.
